Pojok Lesehan

Yuk, Bermain dan Belanja Murah di Pasar Malam Sekaten

POJOKJOGJA – Pemandangan yang tidak biasanya tampak di Alun-alun Utara Yogyakarta. Sejak 1 November 2017 lalu, salah satu kawasan wisata di Kota Yogyakarta ini mulai ramai dipenuhi stand.

Tak hanya stand para pedagang, arena bermain tentunya mulai ramai terlihat di kawasan itu. Warga Yogyakarta sebentar lagi akan merayakan tradisi tahunan, Pasar Malam Sekaten.

Meski baru akan dibuka secara resmi pada 10 November, namun Pasar Malam Sekaten mulai ramai dikunjungi masyarakat. Sekaten merupakan acara tradisi yang digelar Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta.

Sudah menjadi agenda rutin, acara ini digelar setiap tanggal 5 bulan Maulud atau Rabiul Awal tahun Hijriah. Acara yang dikemas dalam bentuk pasar raya ini tentunya bisa menjadi agenda wisata untuk berkunjung di Yogyakarta.

Di 2017 kali ini, sebanyak 486 stand dan 14 anjungan khusus untuk pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang disediakan Pemerintah Kota Yogyakarta.

Di Pasar Malam Sekaten pengunjung akan banyak disuguhi dengan beragam produk dengan harga yang murah meriah. Mulai dari makanan, minuman, pakaian hingga aksesoris lainnya.

Sebelumnya, Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti meminta agar para pelaku usaha tidak memanfaatkan momen ini untuk meraup untung di luar batas kewajaran.

“Jadi meskipun event ini dilaksanakan setahun sekali. Para pedagang sebaiknya memberi harga yang sewajarnya,” katanya, beberapa waktu lalu.

Imbauan itu juga tak hanya diperuntukkan bagi pedagang tetapi juga bagi para juru parkir di kawasan Pasar Malam Sekaten.

“Jika ada kenaikan tidak terlalu tinggi. Pokoknya jangan menggunakan event sekaten sebagai aji mumpung. Ini pesta rakyat,” tegas Haryadi.

Pasar Malam Sekaten akan digelar pada hingga 30 November 2017. Pada acara puncaknya akan ada Grebeg Maulud. Tradisi ini merupakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diadakan tiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Islam.

“Acara ini ditandai oleh pembuatan tumpeng atau gunungan yang dihiasi aneka hasil bumi masyarakat setempat. Biasanya, saat itu warga akan berebut untuk mendapatkan berkah dari keraton itu,” ungkap Haryadi.

(dien)

Baca Juga