Pojok Jogja

Waduh, Begini Kondisi Air Tanah di Yogyakarta

POJOKJOGJA – Sejak lima tahun terakhir, air tanah di Kota Yogyakarta mengalami penurunan satu hingga dua meter per tahunnya.

Guru Besar Hidrologi Fakultas Geografi UGM Totok Gunawan menyatakan, hal itu terjadi akibat adanya sejumlah pembangunan proyek besar di Kota Yogyakarta.

“Misalnya saja pembangunan ringroad, pendirian hotel-hotel dari Tugu ke arah utara, dan pengambilan sumur dalam mulai dari lereng Merapi sampai ke hotel sehingga kebutuhan air tinggi,” katanya, usai acara Sosialisasi Perda DIY Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), di Gedhong Pracimosono, Kepatihan Yogyakarta, Selasa, 12 September 2017.

Ia menjelaskan, jika kebutuhan air tinggi, kemudian diambili dan tidak ada yang masuk kedalam tanah, maka tidak ada tambahan air tanah.

Dari hasil survei kata dia, apabila air dibor dengan kedalaman air 100 meter dalamnya untuk mengisi butuh waktu ratusan tahun.

“Untuk mengatasi hal itu, masyarakat di Sleman wajib membuat resapan air. Makanya, harus ada Perdanya yang mewajibkan masyarakat membuat resapan air. Di samping itu pemerintah harus memperhatikan manajemen air,” jelasnya.

Menurutnya, saat ini di Sleman belum ada Perda yang mewajibkan masyarakat membuat resapan air. Berbeda dengan Bantul sudah memiliki Perda terkait resapan air.

Totok menegaskan, pembuatan sumur resapan air di Sleman seharusnya dua kali lebih banyak daripada di Bantul.

“Saat ini kondisi kekeringan di wilayah Yogyakarta mulai mengkhawatirkan, terutama di wilayah Cangkringan yang sebelumnya merupakan daerah subur,” katanya.

Hal ini karena terjadi letusan Merapi yang mengakibatkan vegetasi tidak bisa hidup. Kalau tidak ada vegetasi air tanah tidak bisa masuk.

Karena itu Totok akan berupaya untuk mengalihkan air dari wilayah yang berlebih air ke Cangkringan.

(dien)

Baca Juga