Kesehatan

Sepanjang 2017, Kasus DBD di Yogyakarta Tercatat Menurun

POJOKJOGJA – Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kota Yogyakarta, Yudiria Amelia mengatakan, kasus demam berdarah dengue (DBD) di Yogyakarta dinyatakan menurun sepanjang 2017.

Hal itu terbukti jika dibandingkan dengan angka kasus DBD pada 2016 lalu. Amelia mengatakan, pada 2016 ada 1.7035 kasus dengan 13 pasien yang meninggal.

“Sementara untuk tahun ini, per Oktober ada 383 kasus dengan 2 pasien meninggal. Meski menurun tetapi kami belum bisa menyimpulkan apakah (penurunan) ini hasil dari EDP (Eliminate Dengue Project),” ungkapnya, Selasa 14 November 2017.

Amelia menjelaskan, EDP merupakan program penilitian yang dilakukan Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan menyebarkan nyamuk berwolbachia di 430 titik di 12 wilayah di Kota Yogya.

Penyebaran nyamuk jenis itu kata dia, dilakukan pada pertengahan tahun 2016 lalu dan diklaim keberadaannya bisa menekan kasus DBD. Ia menyebutkan, penelitiannya masih berlangsung.

“Jika kita lihat hujan yang turun tahun ini tidak merata seperti tahun-tahun sebelumnya, saya kira (tidak meratanya hujan) bisa menjadi faktor menurunnya kasus DBD di Kota Yogya,” jelas Amelia.

Sementata itu, Peneliti EDP UGM, Riris Andono Ahmad menyatakan, selain menyebar nyamuk berwolbachia pihaknya juga telah memasang 430 perangkap nyamuk.

“Perangkap ini difungsikan untuk mengetahui jumlah nyamuk yang sudah mengandung wolbachia,” terangnya.

Untuk wilayah Tegalrejo dan Wirobrajan kata Andono, hingga saat ini jumlah nyamuk berwolbachia cukup tinggi dan stabil. Sekitar 90-an persen dari total nyamuk di sana sudah mengandung wolbachia.

“Dalam penelitian ini, kami juga menempatkan 18 relawan di 18 puskesmas. Tugas para relawan ini yakni mendata pasien di puskesmas yang kemungkinan terserang DBD.

Adapun hipotesis yang digunakan, yaitu jika pun ada kasus (DBD) sebagian besar kasus itu datang dari wilayah yang belum ada nyamuk berwolbachia.

(nis)

Baca Juga