Pojok Jogja

Sejarah Terjadinya Klitih di Yogyakarta

POJOKJOGJA – Tindak kriminal yang dilakukan remaja di Yogyakarta populer dengan nama Klitih atau Nglitih. Kasus yang kembali menyita perhatian ialah pembunuhan di kawasan Bantul beberapa hari lalu. Peristiwa tersebut menewaskan Arif Nur Rohman (20).

Klitih atau Nglitih sebenarnya sudah ada beberapa tahun lalu. Istilah ‘Jam Jahat’ bahkan sempat populer di Jogja. Jam Jahat berarti jam operasinya Klitih.

Klitih sendiri dimaknai sebagai tindak kekerasan sekelompok pelajar yang biasanya masih duduk dibangku SMP atau SMA. Mereka menarget pelajar dari sekolah lain.

Klitih dalam bahasa Jawa diartikan sebagai aktivitas yang tidak jelas atau melakukan aktivitas yang bersifat santai sembari mencari barang bekas di Pasar Klitikan Jogja.

Ada juga yang menggunakan kata Nglitih sebagai penggambaran dari kegiatan (jalan-jalan) santai tanpa tujuan jelas.

Namun, Klitih kini diartikan sebagai lanjutan budaya tawuran pelajar di Jogja. Istilah klitih sebagai pengganti kata tawuran pertama kali muncul di tahun 2009. Namun, baru populer di tahun 2013. Istilah Nglitih seperti lahir mengganti kata tawuran setelah peristiwa pembacokan yang hampir tiap minggu terjadi sepanjang 2011 hingga 2012 lalu.

Di tahun berikutnya, 2013 pihak kepolisian sebenarnya berhasil meredam aksi anarkis pelajar tersebut hanya saja di tahun 2014, aksi pembacokan kembali terjadi.

Kota Jogja yang dikenal sebagai kota pelajar, sempat diplesetkan menjadi “Jogja Genk Pelajar”.

(rin)

Baca Juga