Pojok Lesehan

Sejarah Lahirnya Pasar Malam Sekaten

POJOKJOGJA – Salah satu tadisi kebudayaan di Daerah Yogyakarta yang masih hidup saat ini adalah Pasar Malam Sekaten atau Pasar Malam Perayaan Sekaten.

Merupakan acara rutin yang digelar untuk memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW yang lahir pada tanggal 12 bulan Maulud, bulan ketiga di tahun Jawa.

Sekaten memang identik dengan Yogyakarta, siapapun yang mendengarnya, yang terlintas pertama kali pasti adalah Yogyakarta.

Lalu, mengapa Sekaten identik dengan perayaan pasar malam? Dulunya Sekaten merupakan salah satu media untuk menyebarkan agama islam.

Karena pasar malam adalah pesta rakyat, maka jadilah acara ini dibuat secara besar-besaran yang dinilai menjadi magnet masyarakat untuk mengunjunginya.

Tradisi kuno ini telah dimulai sejak Kerajaan Demak dan berlangsung hingga sekarang di Kasultanan Yogyakarta, dan Kasunanan Surakarta.

Sekaten Jogja/Yogyakarta adalah tradisi kuno. Awal mulanya dikonsepkan oleh Sunan Kalijaga. Dari pengenalan Islam menuju syiar Islam. Dikemas dalam pasar malam berbalut tradisi kerajaan Jawa.

Nama Sekaten berasal dari kata sekati yaitu nama gamelan pusaka Kyai Sekati milik Kerajaan Demak. Kalau Gamelan adalah media hiburan yang digemari saat itu.

Itulah kenapa Sunan Kalijaga memanfaatkan gamelan dan tetabuhan yang dimainkan di halaman Masjid Agung untuk menarik perhatian masyarakat. Pada waktu itu sebgaian besar belum masuk Islam.

Gamelan Kyai Sekati menggunakan nada yang disebut laras pelog. Laras pelog adalah karya gamelan Sunan Giri. Salah satu dari Wali Sanga yang ahli dalam dunia karawitan, seni menabuh gamelan.

Laras pelog sendiri adalah tangga nada 7 oktaf, sebuah pengembangan dari laras slendro. Laras slendro menggunakan tangga nada 5 oktaf. Sunan Giri memang disebut-sebut sebagai penemu laras Pelog.

Dengan adanya tetabuhan ini, masyarakat berbondong-bondong datang untuk menikmati hiburan. Di sela-sela menikmati gamelan, masyarakat diberikan ceramah-ceramah ringan mengenai Islam dan pengenalan ajaran-ajaran Islam.

Tentu dengan materi yang sederhana dan mudah dimengerti, soalnya Islam pada waktu itu adalah agama baru yang sedang berkembang.

Menjadi pusat keramaian, ini pula lah yang menjadi daya tarik masyarakat. Banyak masyarakat yang kemudian berjualan di sekitar halaman masjid dan alun-alun.

Dari awalnya hanya sedikit masyarakat yang berjualan di sekitar masjid, berkembang menjadi suatu event besar. Mirip dengan arena pasar malam. Keluar dan ditabuhnya gamelan Kyai Sekati serta syar ajaran Islam ini kemudian secara familiar oleh masyarakat di sebut dengan acara sekaten.

Tradisi ini berlanjut hingga kerajaan-kerajaan Islam setelah era Kerajaan Demak. Pada masa Kasultanan Jogjakarta berdiri, Sekaten menjadi event besar kerajaan.

Menjadi tempat rakyat berkumpul dan mencari hiburan. Meskipun begitu, spirit syiar Islam tetap menjadi kegiatan utama. Dalam perkembangannya Sekaten kemudian menjadi acara menarik yang tunggu-tunggu rakyat kerajaan.

Meski telah banyak berubah wajah, Pasar Malam Sekaten ini masih akan tetap dipertahankan. Perubahan wajahnya tentulah karena terjadinya perubahan zaman.

Acaranya digelar semakin besar dan didukung dengan beragam teknologi. Namun, Pasar Malam Sekaten tidak meninggalkan tradisi kebudayaan dengan menghadirkan pertunjukan wayang dan pertunjukan kebudayaan lainnya.

(dien)

Baca Juga