Pojok Jogja

Pasca Badai Cempaka, Bantul Masih Krisis Air Bersih

POJOKJOGJA, Bantul – Badai Tropis Cempaka baru saja melanda wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Banjir dan tanah longsor merupakan dampak dari cuaca ekstrem dari Badai Tropis Cempaka.

Akibat bencana yang terjadi sejak awal pekan ini, beberapa wilayah masih merasakan dampaknya. Salah satunya kekurangan air bersih yang terjadi di Kabupaten Bantul.

Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bantul, Yudi Indarto mengatakan, terdapat 11 titik jaringan air PDAM yang rusak dan aksesnya terputus.

“Jadi sekitar 10.000 pelanggan PDAM di wilayah Bantul dipastikan tidak mendapatkan suplai air bersih. Kerugian yang dialami diperkirakan mencapai belasan miliar rupiah,” katanya Jumat, 1 Desember 2017.

Yudi juga menjelaskan, terputusnya suplai air bersih itu juga terjadi akibat beberapa sarana infrastruktur yang rusak parah. Kerusakan itu kata dia meliputi instalasi pengolahan air, elektrik, mekanik, jembatan pipa, jaringan pipa, kantor instalasi hingga intake yang tersebar di 11 titik.

“Kesebelas titik itu di antaranya, di Trimulyo (Jetis), Dlingo, Bangunjiwo (Kasihan), Imogiri, Kalipakis (Kasihan), Guwosari (Pajangan), Selopamioro (Imogiri), Seloharjo (Pundong), Piyungan, Sedayu dan Kamijoro (Pajangan),” sebutnya.

PDAM mencatat lebih dari 2/3 pelanggan terdampak akibat bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi. Secara total pelanggan PDAM di kabupaten Bantul mencapai 29.000

Yudi juga menyatakan, terdapat satu unit instalasi pengolahan air di wilayah Dlingo juga terganggu akibat terjangan aliran Sungai Oya, Selasa, 28 November 2017 lalu.

Padahal lanjutnya lagi, instalasi yang memasok air bagi sekitar 1.500 pelanggan ini belum lama dibangun dengan anggaran mencapai miliaran rupiah.

“Tak hanya itu, instalasi pengolahan air Trimulyo juga mengalami nasib hampir serupa. Bedanya instalasi ini hanya terendam,” jelasnya.

Menurut Yudi, ada banyak fasilitas milik PDAM yang terendam air bercampur lumpur akibat hujan yang turun tak henti-henti. Kerugian total belasan miliar rupiah.

Ia pun belum bisa memastikan kapan perbaikan jaringan yang rusak itu akan selesai. Sebab Yudi mengakui PDAM tidak sanggup menangani seluruh kerugian dan biaya untuk perbaikan belasan titik ini.

“Solusi sementara kami melayani pelanggan yang tak mendapatkan suplai air dengan menggunakan tangki. Kita berharap seluruh stakeholder dapat turut membantu perbaikan salah satu fasilitas publik ini,” ungkap Yudi.

(nis)

Baca Juga