Pojok Jogja

Mengenang 149 Tahun Maha Guru, KH Ahmad Dahlan

POJOKJOGJA – Kelahirannya 149 tahun silam, masih menyisakan banyak jejak di Bumi Pertiwi. Sebagai pendiri organisasi Muhammadiyah, lelaki kelahiran 1 Agustus 1868 ini akhirnya menjadi salah satu orang paling berpengaruh di Indonesia.

Kiai Haji Ahmad Dahlah, sang Maha Guru yang lahir dan dibesarkan di Kampung Kauman. Sebuah perkampungan yang terletak di sebelah barat Alun-alun Utara Yogyakarta. Muhammad Darwisy, demikian salah satu kisah sejarah menuliskan nama asli KH Ahmad Dahlan.

Dididik dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren, yang juga menjadi tempat Muhammad Darwisy menimba ilmu aama dan Bahasa Arab. Di usianya yang masih sangat muda, Muhammad Darwisy yang saat itu masih berusia 15 tahun bertolak ke Mekkah untuk menuntut ilmu agama.

Selama lima tahun, di sanalah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah. Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar padanya.

Di usia yang 20 tahun, ia kemudian pulang ke kamoung halamannya di Yogyakarta. Saat itulah nama Muhammad Darwisy berganti menjadi Haji Ahmad Dahlan. Seperti itulah kebiasaan orang Indonesia kala itu, yang mendapat nama baru sepulang haji. Nama baru sebagai pengganti nama kecil.

Ahmad Dahlan kemudian diangkat menjadi Khatib Amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta. Pada 1902-1904, ia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya yang dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Mekkah.

Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan ini yang kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot).

Ortodoksi ini dipandang menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. Oleh karena itu, pemahaman keagamaan yang statis ini harus dirubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadis.

Sepulang dari Makkah, ia kemudian menikah dengan Siti Walidah yang merupakan saudara sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah.

Berkat buah pemikiran dan gagasannya tentang gerakan dakwah, pada 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di Indonesia. Tekadnya sangat kuat untuk mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam.

Ahmad Dahlan ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur’an dan al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 November 1912. Sejak awal didirikan Dahlan telah menegaskan, Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnah, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. la dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam.

Ada yang menuduhnya kyai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen, mengajar di sekolah Belanda, serta bergaul dengan tokoh-tokoh Budi Utomo yang kebanyakan dari golongan priyayi, dan bermacam-macam tuduhan lain. Namun Dahlan tetap bersih keras melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaruan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.

Jasa-jasa KH Ahmad Dahlan tentu tak boleh hilang tergerus waktu. Berkat jasanya dalam membangkitkan kesadaran bangsa Indonesia, ia pun didaulat sebagai Pahlawan Nasional.

Pemerintah tentu punya pertimbangan lain mengapa KH Amhad Dahlan kemudian didapuk menjadi pahlawan nasional. KH Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.

Selain itu, melalui organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam.

Organisasi Muhammadiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan juga dinilai telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam.

Lahirnya Muhammadiyah untuk bagian wanita yang diberi nama Aisyiyah juga telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.

Kini organisasi Muhammadiyah telah banyak membangun ribuan amal usaha. Berdasarkan data dari web muhammadiyah.or.id, amal usaha Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk TK/TPQ mencapai 4.623, Sekolah Dasar (SD)/MI sebanyak 2.252, Sekolah Menengah Pertama (SMP)/MTs sebanyak 1.111, Sekolah Menengah Atas (SMA)/SMK?MA sebanyak 1.291.

Sementara untuk Pondok Pesantren ada sekitar 67 pondok yang tersebar diu seluruh Indonesia. Adapun jumlah total Perguruan Tinggi Muhammadiyah sebanyak 171. Rumah sakit, rumah bersalin, BKIA, BP, dll sebanyak 2.119. PAnti Asuhan, Santunan, Asuhan Keluarga sebanyak 318.

Amal usaha MUhammadiyah dan Aisyiyah juga terdiri dari panti jompo dengan jumlah 54 panti. Rehabilitasi cacat sebanyak 82 panti rehabilitasi, juga 71 SLB. Tak ketinggalan pula masjid dan musholla masing-masing sebanyak 6.118 dan 5.080.

Seperti itulah KH Ahmad Dahlan, yang meski telah berpulang pada 1923 silam, namun masih meninggalkan jejak. Jejak yang memberi pengaruh besar untuk kemaslahatan bangsa Indonesia.

(dien/dari berbagai sumber)

Baca Juga