Pojok Jogja

Mengenal Bagong Kussudiarja, Seniman Yogyakarta yang Jadi Google Doodle Hari Ini

POJOKJOGJA – Google kembali merayakan ulang tahun tokoh bersejarah asal Indonesia. Kali ini seorang seniman yang lahir dari Kota Gudeg, Yogyakarta.

Bagong Kussudiarja, seorang seniman yang sukses sebagai koreografer dan pelukis andal. Pria kelahiran Yogyakarta, 9 Oktober 1928 memulai kariernya sebagai penari Jawa klasik di Yogyakarta pada 1954.

Dilansir dari Wikipedia, Bagong mulai mengenal dunia seni itu melalui Sekolah Tari Kredo Bekso Wiromo, yang dipimpin oleh Pangeran Tedjokusumo, seniman tari ternama.

Jasa Bagong banyak dikenal dalam dunia kesenian di Yogyakarta, sebelum ia berpulang pada 15 Juni 2004 silam. Pada 5 Maret 1958 Bagong mendirikan Pusat Latihan Tari (PLT).

Ia juga berhasil mendirikan padepokan sendiri yang diberi nama Padepokan Seni Bagong Kussudiardja pada 2 Oktober 1978.

Lebih dari 200 tari telah diciptakan selama hidupnya, baik dalam bentuk tunggal ataupun massal. Beberapa jenis tari cipataannya seperti, tari Layang-layang (1954), tari Satria Tangguh, Kebangkitan dan Kelahiran Isa Almasih (1968), juga Bedaya Gendeng (1980-an).

Lalu, siapa yang tak kenal dengan puteranya. Ia juga seorang seniman dan budayawan ternama Indonesia. Butet Kertaradjasa dan Djaduk Ferianto.

Bagong juga dikenal sebagai perintis seni lukis batik kontemporer. Ia bahkan pernah membintangi film berjudul Kugapai Cintamu. Pada 1985, ia menerima Hadiah Seni Pemerintah RI, dan penghargaan Sri Paus Paulus VI atas fragmennya Perjalanan Yesus Kristus.

Medali emas pernah diraih Bagong Pada 1980 dari Pemerintah Bangladesh. Di mana kala itu, ia memerkan lukan abstraknya di Dacca Bangladesh.

Pada Desember 1984, Bagong memulai perjalanan lima bulan ke tujuh negara di Eropa. Bersama 14 penari, ia mengadakan 69 kali kegiatan seperti, pentas tari, seminar, lokakarya, pameran batik, dan demonstrasi melukis batik.

Sejarah lain yang berhasil dicatat Bagong yaitu pad Hari Kebangkitan Nasional di Jakarta, 20 Mei 1985. Ia mempertunjukkan Pawai Lintasan Sejarah Indonesia, didukung 710 penari dan figuran.

Sebulan kemudian, Bagong beserta 100 penari muncul di pesisir Parangtritis, 27 km di selatan Yogyakarta. Pentas tari kreasinya berjudul Kita Perlu Berpaling ke Alam dan Bersujud pada-Nya.

Bulan berikutnya ia dengan 15 penari manggung di Malaysia, mementaskan tari Gema Nusantara, Igel-igelan, dan Ratu Kidul.

Pada 5 Oktober 1985 di Jakarta, ia menampilkan Pawai Lintasan Sejarah ABRI yang melibatkan 8.000 seniman, militer, hansip, dan veteran.

Melihat silisilah keluarganya, Bagong sendiri merupakan putra RB Tjondro Sentono dan Siti Aminah. Dia adaalah anak keempat dari empat bersaudara. Pertama Kus Sumarbirah, Bagong Kussudiardja, Handung Kussudyarsana, dan terakhir Lilut Kussudyarto.

Kakeknya, Gusti Djuminah konon adalah putra mahkota Sultan HB VII yang karena membelot, terpaksa harus menjalani hukuman kurantil (pengasingan).

(dien)

Baca Juga