Pojok Jogja

Masyarakat, Literasi Media Digital, dan Kepungan Hoax

POJOKJOGJA – Perkembangan teknologi yang semakin maju, menuntut seluruh kalangan masyarakat untuk paham dan melek teknologi.

Hal itu membuat masyarakat tentu semakin mudah menjangkau dunia dari beragam informasi yang didapatkan, utamanya melalui internet.

Dituntutnya masyarakat untuk melek teknologi tak lain dan tak bukan agar masyarakat tidak begitu mudahnya mencerna segala informasi yang diterima. Hoax dan ujaran kebencian misalnya.

Kedua hal itu seolah berjalan sejalan dengan perkembangan teknologi informasi. Gerakan melek media digital pun digencarkan. Sayangnya, gerakan ini baru menyentuh kalangan tertentu saja.

Akademisi dan pemerintahan, kedua kalangan inilah yang baru tersentuh gerakan melek digital.

Padahal berdasarkan riset Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) melek media digital penting untuk menangkal tindakan tak terpuji di dunia maya, seperti hoax atau berita bohong, ujaran kebencian, dan perundungan,

Jaringan yang terdiri dari 52 peneliti dan akademisi dari 25 perguruan tinggi di Indonesia ini telah meneliti gerakan literasi media digital di beberapa wilayah Indonesia sejak April 2017.

“Kami sudah melalukan penelitian dj Yogyakarta, Salatiga, Semarang, Surakarta, Malang, Bandung, Banjarmasin, Bali, dan Jakarta. Hasilnya, ada 338 kegiatan literasi digital di sembilan kota itu,” kata Koordinator Japelidi Novi Kurnia, Senin, 11 September 2017.

Menurutnya, angka tersebut adalah angka yang luar biasa sebagai gerakan untuk membuat warga lebih melek media digital. Namun, para penggiat gerakan melek digital masih didominasi oleh perguruan tinggi selain pemerintah daerah dan komunitas

Ketua Program Studi S2 Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini juga menyatakan, hasil riset menunjukkan bahwa ragam kegiatan literasi digital masih didominasi ceramah atau sosialisasi, di samping lokakarya dan pelatihan.

“Alhasil, kegiatan ini masih menganggap pengguna media digital harus dilindungi dari pengaruh buruk media daripada memberdayakan mereka untuk memanfaatkan media digital dengan baik,” ungkapnya.

Novi menjelaskan, seharusnya yang menjadi sasaran untuk gerakan literasi media diigital ini adalah remaja atau pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, dan orang tua. Anak muda kata Novi dianggap penting sebagai target sasaran gerakan untuk bisa menjadi agen dalam gerakan literasi digital.

“Tapi secara umum, gerakan literasi digital di Indonesia bersifat sukarela, tidak terstruktur, insidental, sporadis, dan tidak kontinyu. Peran pemerintah dalam gerakan ini juga belum terlihat. . Inisiatif-inisiatif dari warga masyarakat sendiri masih minim,” jelasnya.

Penelitian dalam rangka Hari Literasi Internasional 2017 ini juga melihat adanya sejumlah inisiatif upaya melek media digital. Beberapa kampus, seperti UGM, UNY, dan Unisba, menjadikan literasi digital sebagai bagian kurikulum baku.

Di lingkup pemda, DI Yogyakarta dapat menjadi contoh dengan menggelar pelatihan media digital untuk siswa dan guru.

Novi mengungkapkan, dari temuan riset tersebut, para akademisi Ilmu Komunikasi menyarankan sejumlah langkah dalam menggencarkan literasi digital.

Pada level keluarga, orang tua harus menjadi contoh serta melibatkan anak sebagai mitra dalam membuat kesepakatan-kesepakatan atas akses media digital.

“Untuk sekolah, Japelidi mendorong harus ada perubahan ke arah pendidikan berbasis digital. Murid dan guru mesti setara dalam menguasai konten pembelajaran bersama di media digital,” terangnya.

Selain itu lanjutnya lagi, orang tua dan guru dituntut bekerjasama dalam pendidikan anak dan penyediaan laboratorium media digital.

Tak hanya itu, pemerintah juga harus mendorong transformasi digital dengan membangun infrastruktur digital yang demokratis, memperkuat e-governance, serta memberdayakan warga negara sebagai bagian dari kewarganegaraan digital.

(dien)

 

Baca Juga