Pojok Jogja

Koleksi Batik Keraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman Dipamerkan di Taman Pintar

POJOKJOGJA – Memperingati ke-271 tahun Hadeging Nahari Ngayogyakarta atau terbentuknya Yogyakarta, Pemkot Yogyakarta menggelar pameran batik di Taman Pintar.

Pameran bukan sekadar pameran, pada event yang bertajuk “Cerita di Balik Goresan Canting” ini menghadirkan sejumlah koleksi batik Keraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman.

Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengatakan, selain memperingati terbentuknya Yogyakarta pameran tersebut juga digelar sebagai ajang untuk mengukuhkan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia.

“Ajang ini juga sebagai ajang mengenalkan batik kepada masyarakat tentang filosofi batik, maknanya, dan cerita di balik pembuatan batik,” ungkap Haryadi pada pembukaan pameran, Senin, 26 Februari 2018.

Sejak 2014, kata dia, Yogyakarta telah dinobatkan sebagai Kota Batik Dunia oleh World Crafts Council (WCC). Olehnya itu, Yogyakarta juga harus bertekad mempertahankan batuk sebagai warisan dunia yang berasal dari Yogyakarta.

“Karena itu juga di Yogyakarta telah menetapkan setiap Kamis Pahing itu wajib pakai batik. Pameran ini juga turut mendukung aturan itu,” jelas Haryadi.

Hadir dalam acara pembukaan, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, putri bungsu Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Ia mengatakan, batik-batik yang dipamerkan dalam pameran yang berlangsung hingga 4 Maret itu adalah batik tertua yang dimiliki keraton. Misalnya saja batik Parang dan batik Kawung.

Kedua motif itu kata dia, telah dibuat sejak masa Sultan Agung. Secara total ada 14 batik dari Keraton Yogyakarta dan 12 koleksi batik dari Pura Pakualaman yang dihadirkan pada pameran tersebut.

“Salah satu batik legendaris dari keraton adalah batik ceplok Ratu Ratih, yang memiliki filosofi dalam cerita pewayangan Dewi Ratih Sri Bathara Akmajaya disimbolkan sebagai seorang dewi cantik jelita. Ia dilambangkan sebagai keabadian cinta,” ungkap GKR Bendara.

Selain itu, ada juga motif batik dodot yang dipamerakan sepanjang 10 meter. Batik tersebut kata GKR Bendara ia gunakan saat pernikahannya.

Sementara itu, batik dari Pura Pakualam berupa koleksi batik buatan permaisuri Paku Alam X yang selama ini dibuat dari naskah-naskah kuno Pura Pakualaman.

“Misalnya motif Asta Brata, Wijaya Kusuma Jana, dan motif Sestradi. Memang sudah hanya masyarakat yang tahu, tapi tidak banyak yang tahu filosofinya,” kata dia.

Oleh karena itu, melalui pameran ini kata GKR Bendara diharapkan masyarakat bisa lebih mengetahui filosofi dari setiap batik yang dipamerkan agar tidak disalahgunakan nantinya.

(dien)

Baca Juga