Pojok Jogja

Kebijakan BPJS Jogja Dinilai Melanggar Hak Pasien

POJOKJOGJA – Kebijakan BPJS Kesehatan Yogyakarta terkait layanan cuci darah dua kali seminggu dinilai melanggar hak pasien.

Surat Edaran (SE) Kepala Cabang BPJS Cabang Utama Jogja No: 135/VI-08/0316 tanggal 1 Maret 2016 tentang Pelayanan Komitmen Mutu Pelayanan Hemodialisa dinilai merugikan pasien.

Ketua Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) Tony Samosir mengatakan kebijakan tersebut mengancam keselamatan pasien gagal ginjal.

“Pasien gagal ginjal harus menanggung racun dalam tubuh karena kencing hanya bisa dilakukan dua kali dalam seminggu. Padahal idealnya pembuangan kemih tiga kali dalam seminggu,” kata Tony, Minggu 12 November 2017.

Berangkat dari masalah tersebut, KPCDI siap mendukung dan melakukan advokasi untuk pasien. KPCDI akan terus memperjuangkan hak-hak pasien gagal ginjal.

Tony bercerita bahwa kasus serupa pernah terjadi di Jakarta tepatnya pada 2015 lalu. Atas upaya massif dari KCPDI akhirnya BPJS Kesehatan Jakarta memberikan pelayanan heodialisa tiga kali sepekan untuk pasien.

Lebih lanjut, Tony menjelaskan bahwa jumlah pasien penderita gagal ginjal mengalami kenaikan di tahun 2016 yaitu 150.000 orang. Padahal di tahun 2015 hanya berkisar 100.000 pasien.

“Pasien gagal ginjal ini, 70 persen disebabkan hipertensi dan diabetes. Makanya kami gelar seminar ini untuk edukasi promotif untuk melindungi pasien gagal ginjal,” Tony menegaskan.

Untuk diketahui, biaya untuk satu kali cuci darah berkisar Rp 800.000 hingga Rp 1 juta. Kebijakan BPJS Kesehatan Yogyakarta tersebut sudah disampaikan kepada Dinas Kesehatan, Ombudsman, DPRD DIY hingga Kemenkumham DIY.

(ika)

Baca Juga