Film

Jogja-Natpac Asian Film Festival Tayangkan 114 dari 22 Negara

POJOKJOGJA – Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) kembali digelar tahun ini. Kali ini sebanyak 114 film yang akan ditayangkan selama event yang digelar pada 1-8 Desember 2017 ini.

Film-film tersebut merupakan film yang berasal dari 22 negara. Penggagas JAFF, Garin Nugroho mengatakan, pada event yang digelar ke-12 kalinya ditampilkan lebih berbeda daru tahun-tahun sebelumnya.

“Tahun ini pelaksanaan JAFF jauh lebih lama yaitu selama delapan hari di berbagai tempat seperti Taman Budaya Yogyakarta, Cinema XXI dan CGV Cinemas,” kata Garin, Jumat, 1 Desember 2017.

Ia mengungkapkan, antusiasme masyarakat cukup tinggi untuk menyaksikan JAFF 2017. Hal itu terbukti dari tiket yang mampu terjual habis selama satu pekan.

Sebanyak 2.500 tiket telah terjual dan tiket online dari 16 film yang tayang di JAFF 2016 terjual habis pada 30 November 2017.

“Kami juga menyediakan tiket on the spot. Bagi yang berminat masih bisa mengakses pembelian tiket on the spot untuk film-film yang sudah terjual habis secara online,” ungkapnya.

Garin mengatakan, pembelian tiket dapat dilakukan di masing-masing tempat pemutaran mulai dari satu jam sebelum film diputar.

Acara yang mengusung tema ‘Fluidity’, ini resmi dibuka dengan menggelar upacara pembukaan pada 1 Desember 2017 pukul 19.00 WIB di Taman Budaya Yogyakarta.

Hadir memberikan sambutan dalam acara pembukaan dari berbagai pihak seperti Budi Irawanto selaku Direktur Festival JAFF, Endah Wahyu (BEKRAF), Choi Yoon (Busan Film Commission), Tsukamoto (Japan Foundation) dan Garin Nugroho selaku pembuat film Nyai.

Para pengunjung juga disuguhkan sebuah kejutan dengan tayangan video mapping dalam Societed Taman Budaya Yogyakarta

Hadir dengan syair macapat Maskumambang, puisi Jawa tersebut diterjemahkan oleh sekelompok seniman muda Jogja dengan latar disiplin seni yang berbeda-beda.

Hadir pula dala. enampilan tersebut, Paksi Raras Alit (Penyanyi), Sekar Sari (Penari/Aktris), Raphael Dhony (Motion Director), Dhanak Pembayun (Music Director), dan Banjar Triandaru (Lighting Designer). Pertunjukan kolaborasi ini adalah salah satu bentuk bagaimana seni itu sangat cair (fluid) sama halnya dengan sinema yang pada perkembangannya adalah hasil dari berbagai disiplin kesenian.

“Untuk pemilihan tema sendiri, dipilihnya ‘Fluidity untuk mengambarkan film itu sangat cair. Bisa dilihat dari bentuk-bentuk kolaboratif yang ada di film itu sendiri,” terang Garin.

(dien)

Baca Juga