Traveling

Ini 13 Candi di Jogjakarta Yang Harus Kamu Tahu

POJOKJOGJA – Keindahan yang seolah tidak ada habisnya, begitulah Jogjakarta. Tidak salah jika kota ini disebut sebagai daerah istimewa. Menjadi salah satu tujuan wisata pilihan bagi wisatawan nusantara, terlebih mancanegara.

Bagaimana tidak, kota ini menawarkan sejumlah destinasi wisata yang dijamin bikin kamu betah dan ingin datang lagi. Selain wisata bahari wisata gunung, di Jogjakarta juga terkenal dengan wisata historinya. Keberadaan candi yang penuh dengan kisah sejarah misalnya.

Nah, buat kamu yang gemar dengan wisata histori, daftar candi-candi ini bisa jadi masuk daftar kunjungan kamu saat berada di Jogjakarta. Apa saja sih candi itu, yuk baca artikelnya.

1. Candi Prambanan
Candi yang satu ini mungkin sudah cukup populer di telinga kamu. Candi yang juda dikenal dengan sebutan Candi Roro Jonggrang ini dibangun sekitar 850 Masehi oleh Wangsa Sanjaya. Menjadi landmark menarik Jogjakarta di antara sejumlah objek wisata lainnya.

Jangan salah lho, Candi Prambanan merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Pada 1991 ditetapkan UNESCO sebagai cagar budaya dunia (World Wonder Heritage), berada dalam kompleks seluas 39,8 ha. Menjulang setinggi 47 meter atau lima meter lebih tinggi dari Candi Borobudur, Candi Prambanan telihat perkasa dan kokoh. Hal ini sesuai dengan latar belakang pembangunan candi ini, yaitu ingin menunjukkan kejayaan peradaban Hindu di tanah Jawa.

Untuk masuk ke kawasan Candi Prambanan, kamu bisa menyiapkan uang sebesar Rp 30 ribu per orang sekali kunjungan. Sedangkan tiket masuk bagi anak-anak sebesar Rp 20 ribu per anak..Untuk wisatawan asing dikenai tiket masuk sebesar 18 USD. Tempat wisata Candi Prambanan dibuka setiap hari mulai pukul 8 pagi hingga 5 sore.

2. Candi Ratu Boko
Candi ini jaraknya hanya sekitar 3 km arah selatan dari Candi Prambanan. Candi Ratu Boko jug amerupakan salah satu peninggalan kerajaan Mataram. Dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra.

Menurut para ahli sejarah, candi ini bersifat multifungsi, sebagai benteng keraton, tempat ibadah, dan gua. Keistimewaan lain yang dimiliki Candi Ratu Boko yaitu memiliki sifat profan yang ditunjukkan dengan keberadaan keputren dan paseban.

Selain itu, dalam bangunan candi juga terlihat adanya perpaduan antara unsur-unsur Hindu dan Buddha. Hal ini terlihat dari adanya patung Lingga dan Yoni, Arca Ganesha, serta lempengan emas yang bertuliskan Om Rudra ya namah swaha. Lempengan tersebut menyiratkan satu bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra, nama lain dari Dewa Siwa.

Di sebelah utara cani ini kamu dapat menikmati pemandangan kota Jogja dan Candi Prambanan dengan latar belakang Gunung Merapi. Tiket masuk ke Candi Ratu Boko Jogja berkisar Rp 15 ribu per orang. Untuk menikmati pemandangan di kala matahari mulai terbenam, maka Anda akan dikenai biaya sebesar Rp 40 ribu. Tempat ini merupakan salah satu tujuan wisata Jogja yang menarik.

3. Candi Kalasan
Candi Kalasan atau disebut juga Candi Tara adalah bangunan suci yang dipersembahkan bagi Dewi Tara, juga menjadi biara bagi para pendeta. Candi Kalasan dibangun sebagai penghargaan atas perkawinan Pancapana dari dinasti Sanjaya dengan Dyah Pramudya Wardhani dari dinasti Syailendra.

Candi Kalasan ini selesai dibangun pada 778M sehingga merupakan Candi Buddha tertua di Yogyakarta. Tempat wisata candi ini terletak di Kalibening, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Atau, kira-kira sekitar 2 km di sebelah barat dari Candi Prambanan. Jika dari Jogja, berjarak sekitar 15 kilometer sebelah timur. Candi Kalasan mempunyai akses, sarana, dan prasarana yang sangat memadai.

4. Candi Sewu
Candi Sewu merupakan candi Buddha yang dibangun pada abad ke-8, berjarak sekitar 800 m sebelah utara Candi Prambanan. Candi Sewu adalah kompleks candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur, berusia lebih tua ketimbang Candi Prambanan.

Meskipun aslinya terdapat 249 candi, oleh masyarakat setempat candi ini dinamakan “Sewu” yang berarti seribu dalam bahasa Jawa. Penamaan ini berdasarkan kisah legenda Loro Jonggrang. Secara administratif, kompleks Candi Sewu terletak di Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

5.Candi Sari
Terletak tidak jauh dari Candi Kalasan, sekitar 3000 m arah timur. Candi ini merupakan bangunan agama Buddha, terlihat dari stupa yang terdapat di puncaknya. Diperkirakan dibangun pada abad ke-8 masehi pada periode pemerintahan Rakai Panangkaran bersamaan dengan masa pembangunan Candi Kalasan.

Pintu masuk menuju bagian dalam Candi Sari terkesan apa adanya dikarenakan bagian tangga depan mengalami kerusakan. Saat ini bilik penampil tersebut sudah tidak bersisa, sehingga pintu masuk ke ruang dalam candi dapat langsung terlihat. Hiasan di bingkai dan Kalamakara di atas ambang pintu sangat sederhana, karena hiasan yang indah terletak di dinding luar bilik pintu.

6. Candi Mendut
Objek wisata candi di Jogja ini berlokasi sekitar 38 km dari Yogyakarta dan hanya sekitar 3 km dari Candi Borobudur. Candi Mendut merupakan candi Buddha yang diperkirakan masih ada keterkaitan dengan candi Pawon. Hingga kini tidak dapat dipastikan kapan candi Mendut ini dibangun. Usia candi ini diperkirakan lebih tua dari pada Candi Borobudur.

Di dalam tubuh candi Mendut terdapat ruangan yang cukup luas berisi 3 buah Arca Buddha. Arca Buddha Sakyamuni menghadap ke arah pintu, yaitu Buddha yang digambarkan dengan posisi duduk berkhotbah dan sikap tangan Dharmacakramudra, melambangkan sikap sedang mewejangkan ajaran.

Arca Bodhisattva Avalokiteswara di sisi kanan ruangan menghadap ke arah selatan, yaitu Buddha penolong manusia digambarkan dalam posisi duduk dengan kaki kiri terlipat dan kaki kanan menjuntai kebawah dengan telapak kaki beralas bantalan teratai kecil.

Arca Maitreya di sisi kiri ruangan menghadap ke arah utara, yaitu Buddha pembebas manusia digambarkan dalam posisi duduk dan sikap tangan Simhakarna Mudra, mirip seperti sikap Vitarka Mudra akan tetapi dengan jari jari tertutup.

7. Candi Sambi Sari
Candi Sambisari merupakan salah satu candi peninggalan masa kejayaan Hindu di tanah Jawa, terletak di wilayah Kabupaten Sleman. Candi beraliran Syiwaistis yang dibangun pada abad X oleh Wangsa Syailendra ini ditemukan pada tahun 1966 secara tidak sengaja oleh seorang petani dari Desa Sambisari yang bernama Karyoniangun ketika sedang mencangkul di ladangnya.

Berdasarkan penelitian geologis terhadap batuan candi dan tanah yang telah menimbunnya selama ratusan tahun, candi setinggi 7,5 m ini diperkirakan terkubur oleh material letusan dahsyat Gunung Merapi pada tahun 1006 M. Selanjutnya, dari hasil penggalian yang dilakukan pada bulan Juli 1966, diperoleh kepastian bahwa daerah tersebut memang adalah sebuah situs candi.

Candi Sambisari memiliki keunikan tersendiri dibanding candi-candi Hindu lainnya, yaitu letaknya yang berada di bawah permukaan tanah sedalam 6,5 m. Jika Anda melihatnya dari samping, maka candi ini seolah-olah muncul dari bawah tanah. Untuk masuk ke tempat wisata candi ini, Anda dapat membayar Rp 3 ribu per orang.

8. Candi Ijo
Candi Ijo adalah nama sebuah kompleks percandian yang terletak di Bukit Ijo. Nama candi ini diambil dari nama lokasi dibangunnya candi yang oleh masyarakat setempat dinamakan “Gumuk Ijo” (gumuk = bukit). Bukit Ijo merupakan perbukitan tertinggi di wilayah Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, dengan puncak tertinggi sekitar 410 meter di atas permukaan laut (dpl).

Lokasinya berada pada ketinggian 357,402 m – 395,481 m dpl. Hal itu membuat lokasi Candi Ijo menjadi candi tertinggi dibandingkan candi-candi lainnya di wilayah Yogyakarta. Maka tak heran jika di kalangan penikmat wisata purbakala, Candi Ijo juga dikenal dengan sebutan ‘Candi Tertinggi‘ di Yogyakarta.

Kompleks Candi Ijo sebetulnya masih berada dalam satu perbukitan dengan candi-candi lain, semisal Candi Ratu Boko, Candi Barong, serta Candi Banyunibo. Candi-candi tersebut berada di atas perbukitan kapur Kecamatan Prambanan. Candi Ijo sendiri diperkirakan dibangun sekitar abad ke-9 Masehi.

Dari area candi ini, jika wisatawan memandang ke arah selatan, akan nampak lembah berteras curam yang sangat sedap dipandang. Tanah di perbukitan ini memang tandus, tetapi di musim hujan tumbuhan semak dan belukar nampak menyelimuti perbukitan. Apabila wisatawan memandang ke arah barat, akan nampak Bandara Internasional Adisutjipto yang berada di tepi barat perbukitan Prambanan.

9. Candi Pawon
Candi Pawon berada di 1,2 km arah barat dari candi Mendut atau sekitar 1,8 km arah timur dari candi Borobudur. Candi Pawon ini terletak tepat di sumbu garis yang menghubungkan antara candi Borobudur dan candi Mendut. Selain dari posisi letaknya, kemiripan motif pahatan yang ada di ke-tiga candi itu memunculkan dugaan kuat bahwa diantara ketiga candi itu ada keterkaitan kuat.

Dari seni bangunannya candi ini merupakan penggabungan dari seni bangunan Hindu Jawa kuno dan India. Banyak orang memperkirakan bahwa candi Pawon merupakan sebuah makam, akan tetapi dari penelitian mengatakan bahwa ternyata merupakan suatu tempat untuk menyimpan senjata Raja Indra yang bernama Vajranala. Dalam bahasa Sanskerta “Vajra”, berarti Halilintar dan “Anala”, berarti Api.

Candi Pawon terbuat dari batuan gunung berapi. Yang menarik pada candi Pawon dapat dilihat dari ragam hiasnya. Candi ini berada diatas teras dan tangga yang agak lebar. Semua bagian candi dihiasi dengan stupa dan dinding bagian luar dihiasi dengan relief pohon hayati (kalpataru) yang diapit oleh pundi pundi dan kinara kinari (makhluk setengah manusia setengah burung / berkepala manusia berbadan burung).

10. Candi Plaosan
Candi ini merupakan sebuah kompleks bangunan kuno yang terbagi menjadi dua, yaitu kompleks Candi Plaosan Lor (utara) dan kompleks Candi Plaosan Kidul (selatan). Letak antar kompleks berdekatan, yakni berjarak sejauh 100 meter. Pahatan yang terdapat di Candi Plaosan sangat halus dan rinci, mirip dengan yang terdapat di Candi Borobudur, Candi Sewu, dan Candi Sari.

Candi Plaosan yang merupakan candi Buddha ini oleh para ahli diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Hindu, yaitu pada awal abad ke-9 M.

Dari corak bangunan candi, diketahui bahwa tempat wisata di Jogja yang satu ini adalah perpaduan antara dua kebudayaan, yaitu Hindu dan Buddha.

Menurut keyakinan masyarakat lokal, Candi Plaosan ini memiliki kekuatan cinta kasih antara Rakai Pikatan dan Pramudya Wardhani. Oleh karenanya, diyakini akan mendatangkan berkah bagi pasangan pria dan wanita. Itulah sebab objek wisata candi ini cukup populer bagi pasangan suami istri yang ingin dikaruniai kelahiran seorang anak.

11. Candi Gebang
Konon di kanan kiri pintu masuk Candi Gebang terdapat relung dengan Arca Nandiswara, sedang didalam relung berisi arca Mahakala, tetapi saat ini keduanya sudah tidak ada.

Di dalam tubuh Candi Gebang terdapat satu bilik dengan arah hadap ke timur yang didalamnya terdapat Yoni. Relung di sisi utara dan selatan dalam keadaan kosong. Di sebelah barat terdapat relung yang diisi dengan Arca Ganesha yang duduk di atas sebuah Yoni dengan cerat yang menghadap ke utara. Sedangkan pada bagian puncak, terdapat Lingga yang berada di atas bantalan seroja.

Bentuk Lingga hanya bagian atas, yaitu berupa bentuk silinder. Di dalam atap juga terdapat sebuah ruangan kecil yang berbentuk rongga di atas bilik candi sebenarnya. Di halaman juga terlihat adanya Lingga semu (patok) yang berada di keempat sudutnya.

12. Candi Barong
Candi Barong terletak di arah selatan Candi Prambanan, berada di perbukitan Dusun Candisari, Sambirejo, Prambanan, Kabupaten Sleman. Candi Hindu ini adalah kompleks peribadatan untuk memuja Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi.

Hiasan Kala Makara berupa kepala singa (barong) yang memiliki rahang bawah adalah salah satu keunikan yang dimiliki objek wisata candi di Jogja ini. Hiasan Kala Makara lazimnya dipahat di atas pintu atau relung-relung candi sebagai simbol penolak bala.

Pada bagian atas yang merupakan area tertinggi di dalam candi ini adalah area yang dianggap sakral, di situlah terdapat patung Dewa Wisnu dan Dewi Laksmi.

13. Candi Kedulan
Candi Kedulan yang terletak sekitar 2,5 km dari Candi Sambisari. Candi ini sedang dalam proses penggalian dan rekonstruksi karena pada saat ditemukan reruntuhan candi dalam keadaan tertimbun tanah yang berasal dari lahar Gunung Merapi.

Saat penggalian, di dekat arca Agastya ditemukan dua buah prasasti yang masing-masing panjangnya 75 cm, lebar 45 cm, dan tebal sekitar 23 cm. Kedua prasasti ini ditulis dengan huruf Palawa dan berbahasa Sansekerta.

Keduanya dikenal sebagai Prasasti Pananggaran dan Prasasti Sumundul. Keduanya berangka tahun bertahun 791 Saka atau 869 Masehi. Menilik tahun pembuatan prasasti, diduga Candi Kedulan dibangun ketika Rakai Kayuwangi memerintah Kerajaan Mataram Hindu.

(dien)

Baca Juga