Pojok Jogja

Grebeg Maulud Tahun Dal Lebih Meriah dengan Gunungan Bromo

POJOKJOGJA – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tak pernah ditinggalkan oleh Keraton Yogyakarta. Salah satu ritual yang rutin digelar adalah Grebeg Maulud Keraton Yogyakarta. 

Di 2017 ini jatuhnya peringatan maulid nabi tepat di 1 Desember 2017 bertepatan dengan Tahun Dal berdasar kalender penanggalan Jawa Sultan Agungan.

Abdi dalem KHP Widya Budaya Keraton Yogyakarta KRT Rinta Iswara mengatakan, berdasarjan siklus delapan tahunan tersebut, Grebeg Maulud Tahun Dal memiliki rangkaian acara yang lebih besar dibanding dari biasanya.

“Di tiap Tahun Dal akan ada banyak rangkaian acara yang mungkin belum banyak dikenal masyarakat luas. Bukan hanya dengan adanya tambahan gunungan yang disebut Gunungan Bromo,” katanya, Kamis, 30 November 2017.

Ia juga menjelaskan, rangkaian upacara Grebeg Maulud Tahun Dal 1951 ini ada pula prosesi ‘mbusanani pusaka’ atau mengganti kain yang dipakai untuk menutup pusaka-pusaka di Keraton Yogyakarta.

Lalu, pada Jumat, 1 ada rangkaian pisowanan di Bangsal Kencana. Ia menyebut, dalam kesempatan itu, Raja Yogyakarta Sri Sultan HB X akan ‘miyos’ dan berada di Bangsal Kencana untuk menerima pisowanan dari kerabat, sentana dan abdi dalem.

“Bersamaan dengan acara itu, sejumlah pusaka Keraton Yogyakarta juga akan ikut dikeluarkan, seperti Tombak KK Pleret, KK Megatruh, Dwaja KK Pareanom, Dwaja KK Tunggul Wulung dan lainnya,” jelasnya.

Selain itu, Ngarsa Dalem dan Kanjeng Ratu juga akan memasak nasi putih menggunakan pensil Nyai Mrica. Bahkan Ngarsa Dalem akan mengepal sendiri nasi tersebut dan dibagikan pada yang ikut pisowanan.

Kamis malam tadi, rangkaian acara yang digeka seperti biasa sebelum Kondur Gangsa, Sultan HB X akan berada di Masjid Gedhe Kauman untuk mendengarkan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW.

“Setelah itu, dilanjutkan dengan Nyebar Udhik-udhik di tiga tempat, yakni Serambi, Pagongan Lor dan Pagongan Kidul Masjid Gedhe Kauman,”

Rinta menambahkan, khusus saat Tahun Dal Ngarsa Dalem akan melakukan prosesi ‘njejak bata’ di pintu masuk Masjid Gedhe sisi selatan.

Ritual Grebeg Maulud lanjut Rinta tidak ada yang berbeda selain penambahan satu gunungan.

“Namun, khusus Gunungan Bromo tidak untuk diperebutkan bagi masyarakat karena selesai didoakan abdi dalem penghulu segera dibawa masuk ke dalam Kraton untuk dibagikan pada kerabat dan sentana dalem,” terangnya.

(nis)

Baca Juga