Pojok Jogja

Cerita Juru Kunci Makam Tentang Permaisuri Sri Sultan HB V dan Putranya yang ‘Dibuang’ di Manado

POJOKJOGJA – Seorang juru kunci makam Kanjeng Ratu Sekar Kedaton, Haji Mohammad Albuchari (80) bercerita bagaimana awal mula, jenazah permaisuri Sri Sultan HB V dimakamkan di Manado, Sulawesi Utara.

Albuhachari sudah 20 tahun merawat makam permaisuri Sultan HB V tersebut. Bukan hanya satu makam, melainkan dua makam. Sebab, di sebelah makam permaisuri, juga ada makam putra mahkota Gusti Kanjeng Pangeran Arya Suryeng Ngalaga.

Albuhacri bercerita bahwa Kanjeng Ratu dan Putra Mahkota tinggal di Kampung Pondol, sejak mereka dibuang ke Manado oleh pemerintah kolonial Belanda dan dikucilkan dari Kesultanan Yogyakarta.

Dilansir kabarmanado.com, Kampung Pondol diketahui (dulunya) terletak di tepi Pantai Manado. Namun pada akhir 1990-an pantai ini melalui reklamasi sehingga berubah menjadi pusat perbelanjaan.

Karena keberadaan Kanjeng Ratu di Pondol. Kampung Pondol dulu terbagi dua yaitu Pondol Keraton sebagai tempat tinggal Kanjeng Ratu dan Pondol Raden Mas sebagai tempat putranya.

Sang juru kunci, Haji Mohammad Albuchari ialah putra dari KH Abdurahman Albuchari yang merupakan pengikut Kyai Modjo. Semasa Kanjeng Ratu Sekar masih hidup, KH Abdurahman Albuchari yang menarik iuran dari para penghuni di Kampung Pondol Keraton dan Pondol Raden Mas.

“Ada semacam keraton kecil di Pondol ini karena di sana ada para bangsawan. Selain Kanjeng Ratu Sekar Kedaton dan putra mahkota Gusti Kanjeng Pangeran Arya Suryeng Ngalaga, ada juga kaum bangsawan dari keraton Surakarta dan kerajaan di Palembang,” Albuchari menjelaskan.

Sampai akhirnya, kompleks pemukiman Pondol Keraton dan Pondol Raden Mas hancur setelah pihak sekutu mengebom markas pertahanan Jepang di Manado. Di kompleks Podol Keraton itu hanya tersisa sejumlah rumah tua peninggalan keluarga bangsawan.

Permaisuri dan keturunan Putra Mahkota Kesultanan lalu tinggal di kampung Pondol. Namun tidak semua, ada juga yang kembali ke Jawa.

Kanjeng Ratu Sekar dan putra mahkota Gusti Kanjeng Pangeran Arya Suryeng Ngalaga saat diasingkan ke Manado, ditemani oleh sejumlah kerabat keraton termasuk Kyai Modjo, penasehat agama sekaligus panglima perang Pangeran Diponegoro serta beberapa pengawal.

Dari penjelasan Albuchari diketahui bahwa Putra Mahkota meninggal di tahun 1901 sedangkan permaisuri Kanjeng Ratu Sekar meninggal di tahun 1919.

Selama 20 tahun jadi juru kunci, Albuchari mengaku tak pernah ada pihak keraton Yogyakarta yang berkunjung ke kompleks pemakaman tersebut. Begitu pula saat Sultan HB X dan istri berkunjung ke Sulawesi Utara pada 30 Juni – 2 Juli 2017 lalu.

Hingga saat ini, kompleks pemakaman sang Ratu masih terawat baik. Pemakaman permaisuri Sri Sultan HB V itu terletak di Kelurahan Mahakeret Barat, Kecamatan Wenang, yang berjarak sektar 400-an meter dari rumah Albuchari.

Kini Albuchari tak lagi jadi juru kunci makam. Kunci makam telah diserahkan ke salah satu mantan abdi dalem Kanjeng Ratu Sekar Kedaton yang bernama Sukardi Soepredjo.

Sukardi merupakan ayah dari mantan anggota DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Yastie Soepredjo, yang kini menjabat Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara.

“Beberapa waktu lalu ada keluarga keturunan Sri Sultan HB V yang datang. Namun mereka tak bisa ke makam karena kuncinya ada pada Sukardi, yang saat itu lagi di Bolaang Mongondow mengikuti pelantikan anaknya sebagai bupati,” demikian Albuchari.

(rin)

Baca Juga