Traveling

Berwisata dan Belajar Sejarah di Taman Sari Keraton Yogyakarta

POJOKJOGJA – Yogyakarta tidak hanya terkenal dengan keindahan wisata alamnya, tetapi juga wisata sejarah yang lahir di Kota Gudeg ini. Tak sedikit orang yang memilih berwisata di sejumlah peninggalan bersejarah di Yogyakarta.

Salah satu yang paling populer saat ini adalah Taman Sari Keraton Yogyakarta. Lokasi yang konon katanya merupakan tempat peristirahatan Sultan Hamengku Buwono I ini hampir setiap harinya ramai dikunjungi.

Memasuki kawasan Taman Sari, pengunjung akan disambut dengan dua kolam berukuran lapangan sepak bola mini. Beberapa pot bunga berukuran besar tampak mengelilingi kolam tersebut.

Kolam inilah yang menjadi salah satu spot favorit para pengunjung untuk mengabadikan gambar. Indah memang, sebab air di dalam kolam terlihat bersih dan jernih.

Slamet salah satu pemandu wisata di Taman Sari mengatakan, tempat ini tak hanya menjadi tempat peristirahatan, Taman Sari dulunya merupakan tempat persembunyian Sultan HB I untuk mengatur strategi melawan Belanda.

   Salah satu ruang istirahat Sultan HB I

Di kawasan Taman Sari, pengunjung bisa menemukan kamar tidur sang raja, ruang mandi sauna, ruang makan, masjid, dan berbagai bangunan lainnya.

Sultan HB I kata Slamet justru lebih banyak menghabiskan waktu di Taman Sari.

“Belanda dulu mengira Sultan di kesini hanya istirahat dan rekreasi. Padahal di sini beliau menyusun strategi perang,” kata Slamet, beberapa waktu lalu.

Sebab lanjut pria paruh baya ini, rapat di Keraton yang seharusnya menjadi rahasia selalu saja ada yang membocorkan.

Berdiri di atas lahan seluas 36,6, taman ini dulunya terdiri dari 59 bangunan. Kini menyisakan 21 bangunan yang masih berdiri kokoh di atas luas lahan 12,6 hektare.

Dahulu kata Slamet, Taman Sari merupakan kawasan perairan. Dikelilingi danau buatan, sehingga taman ini dikenal sebagai Water Castle.

“Dulu di sini ada sungai yang membelah Keraton. Namanya Sungai Larangan. Jadi kalau masuk kesini, Sultan naik sampan, kadang naik kereta,” kata Slamet sembari menunjukkan area yang dulunya menjadi pintu masuk Taman Sari ini.

Jika Anda berencana mengunjungi Taman Sari ada baiknya untuk menyiapkan air mineral atau bekal di tas Anda. Sebab mengunjungi destinasi wisata yang satu ini memang butuh tenaga ekstra.

Jika lupa, tak perlu khawatir. Taman Sari kini telah berbaur dengan rumah penduduk. Namun, semua masih tertata dengan rapi dan indahnya. Warga setempat banyak yang menjajakan makanan dan minuman.

Kaos batik karya warga kampung Taman Sari

Di kawasan ini juga pengunjung bisa berburu oleh-oleh. Banyak karya tangan yang bisa menjadi pilihan untuk dibawa pulang, seperti tas, baju, dan beragam kerajinan tangan lainnya.

Rumah penduduk itulah kata Slamet yang dulunya merupakan kawasan permandian.

“Dulu warga minta persetujuan minta hidup di dalam benteng Keraton, agar aman dan tidak diganggu Belanda,” tambah Slamet.

Menjelajahi Tamar Sari juga butuh ekstra baterai ponsel. Sebab tidak sedikit area yang bisa menjadi spot foto yang Indah dan menarik.

Bangunan klasik yang masih sangat aslinya menjadi salah salah satu daya tarik di kawasan ini. Hampir di setiap sudutnya semua terlihat indah.

Belum lagi bangunan yang dulunya merupakan masjid. Tempat ini juga menjadi buruan para pengunjung untuk berfoto ria. Apalagi para instagramable. Interiornya juga tak uniknya.

   Bangunan masjid tua Taman Sari

Di bagian tengah bangunan terdapat anak empat anak tangga untuk turun ke bagian bawah bangunan. Sementara satu lainnya untuk naik ke lantai dua bangunan.

Lima anak anak tangga itu kata Slamet melambangkan lima waktu salat. Dan biasanya orang memilih mengabadikan gambar diri di tengah-tengah tangga tersebut.

Slamet mengatakan, proses pembangunan Taman Sari terhitung lama. Untuk pembangunan pintu gerbang depan hingga pintu gerbang belakang saja memakan waktu tujuh tahun.

Beberapa bangunan memang masih terlihat sangat kokohnya. Di akhir penjelajahan, pengunjung akan bertemu dengan gedung yang kata Slamet merupakan istana Sultan HB I.

Sisa bangunan Istana Keraton Yogyakarta

Gedung tersebut memang tidak utuh lagi, bagian atapnya hanya tak lagi melindungi bagian dalam dari teriknya matahari. Namun, untuk tiang-tiang penopangnya masih terlihat kokoh dan gagah.

“Ini dulu hanya dibangun dengan menggunakan bata, pasir, batang nipah, dan putih telur. Dulu belum ada semen kan,” ungkap Slamet.

Bangunan itulah yang menjadi titik akhir perjalanan wisata sejarah pengunjung di Taman Sari. Bagi Anda yang senang menjelajah apalagi sambil belajar sejarah, Taman Sari bisa jadi pilihan.

Untuk biaya masuk tak perlu khawatir, cukup dengan Rp 5.000 rupiah saja, juga biaya parkir kendaraan Rp 2.000. Di kawasan ini Anda sudah bisa berwisata dan belajar sepuasnya. Bagaimana menarik bukan. Selamat menjelajah…

(dien)

Baca Juga