Pojok Jogja

Bahas Masalah Pertanian di Asia 50 Ahli Pertanian Bertemu di Yogyakarta

POJOKJOGJA – Sebanyak 50 ahli pertanian dari 14 Negara berkumpul di Yogyakarta untuk membahas terkait pengembangan teknologi untuk pertanian saat ini.

Kegiatan telah dibuka pada 27 September ini merupakan kegiatan yang difasilitasi Kementerian Pertanian. Dalam pertemuan tersebut mereka menyepakati tantangan penerapan guna pertanian yang sesuai keinginan petani.

“Pertemuan ini mendapat dukungan dari Asian Food adn Agriculture Cooperative (AFACI) Korea Selatan,” ungkap Seketaris Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian Muhammad Prama Yufdy, Kamis, 28 September 2017.

Ia menyatakan pada kegiatan itu para ahli bertukar pengalaman penerapan teknologi tepat guna terutama penanganan hama wereng yang menjadi masalah di Asia Tenggara.

Menurut Prama, hama wereng coklat dan serangan virus kerdil pada padi di kawasan epidemis menjadi pembahasan khusus pembahasan.

“Para ahli akan berbagi informasi tentang tingkat serangan dan populasi hama tersebut, serta memberi bimbingan dan pengetahuan tentang  penyakit yang ditularkan, juga teknik pengendalian kepada petani atau kelompok tani,” jelasnya.

Selain membahas persoalan hama, pertemuan juga membahas perkembangan budi daya kentang yang diproyeksi sebagai alternatif sumber karbohidrat pengganti beras.

Dengan  produksi kentang  mencapai 17 ton per hektar, Prama menyatakan jumlah itu sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan kentang.

“Terutama untuk kentang yang khusus usaha makanan cepat saji. Indonesia kekurangan bibit unggul kentang sehingga kami berharap pertemuan ini memberi solusi masalah ini,” ujarnya.

Menurutnya, penerapan teknologi tepat guna pertanian yang sesuai kebutuhan petani menjadi persoalan yang belum selesai saat ini.

Prama menjelaskan, teknologi pertanian yang diterapkan belum mampu mengoptimalkan pendapatan petani. Padahal ke depan pangan merupakan komoditas utama yang diperebutkan karena meningkatnya jumlah manusia.

Dunia pertanian Indonesia kata Prama belum siap menerapkan teknologi pertanian seperti di Belanda yang sepenuhnya menggunakan teknologi terbarukan dan sedikit menggunakan sumber daya manusia. katanya.

“Bukan hanya di Indonesia, penerapan teknologi yang tidak menghilangkan petani, atau diharap menambah jumlah petani yang kini semakin berkurang juga menjadi masalah bagi anggota AFACI. Tantangan ini yang disepakati bersama seluruh anggota sebagai prioritas,” terangnya.

Perwakilan AFACI Lee Songye menambahkan, kegiatan ini juga digelar untuk mempromosikan pertanian berkelanjutan dan berkontribusi dalam peningkatan ekonomi.

Hal itu dilakukan secara konsisten di negara-negara Asia melalui  pemanfaatan teknologi di bidang pertanian dan pangan.

“Mayoritas kegiatan AFACI meliputi kerjasama internasional mengenai pengembangan pertanian berkelanjutan dan teknologi pangan yang dapat merespon perubahan lingkungan di bidang pertanian,” ungkapnya.

Pada 2017 lanjut Lee Songye, ada delapan proyek AFACI yang sedang berlangsung di Indonesia. Salah satunya proyek pembibitan massal benih kentang menggunakan metode hidroponik untuk mendukung stabilitas ketersediaan benih kentang dalam negeri.

Adapun ke-14 negara anggota AFACI yang hadir di acara ini di antaranya dari Bangladesh, Bhutan, Cambodia, Indonesia, Kyrgyz, Lao PDR, Mongolia, Myanmar, Nepal, Philippines, Srilangka, Thailand, Vietnam, dan Korea.

(dien)

Baca Juga