Pojok Jogja

Agar Tak Ditinggalkan, Trans Jogja Saatnya Miliki Jalur Sendiri

POJOKJOGJA – Minat masyarakat untuk menggunakan bus Trans Jogja semakin mengalami penurunan. Hal itu diungkapkan Kepala UPT Trans Jogja Dinas Perhubungan DIY Sumariyoto.

Tanpa adanya inovasi ia khawatir Trans Jogja justru akan ditinggalkan oleh masyarakat. Terlebih sudah ramainya angkutan transportasi umum yang lebih memadai.

Salah satu yang menjadi permasalahan dalam penggunaan Trans Jogja adalah waktu tempuh yang dilalui harus menjadi tiga kali lipat dari yang sewajarnya.

“Solusi terbaik yang bisa dipikirkan saat ini yaitu dengan adanya lajur khusus untuk Trans Jogja,” kata Sumariyoto, Jumat 24 November 2017.

Ia mengakui, untuk mewujudkan keinginan itu harus berhadapan dengan resiko tingkat kemacetan yang semakin tinggi. Mengingat jalan di Yogyakarta relatif sempit.

Namun, kata Sumariyoto ia berpikiran terbalik, dengan berpedoman pada Pancasila yakni mementingkan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

“Dengan demikian kendaraan umum harus diutamakan walaupun harus mengorbankan kendaraan pribadi. Justru dengan seperti itu, orang akan malas naik kendaraan pribadi dan memilih Trans Jogja. Hanya memang butuh proses,” jelasnya.

Sumariyoto menyatakan, sebelumnya wacana tersebut sudah ia sampaikan. Tujuannya mempercepat waktu tempuh agar penumpang yang menunggu di halte tidak terlalu lama.

Waktu tempuh paling lama maksimal 15 menit, namun untuk beberapa jalur, seperti Gamping- Balaikota misalnya, waktu tunggu kini mencapai 45 menit.

“Bus yang sedikit dan lalu lintas padat yang menjadi salah satu penyebabnya,” kata Sumariyoto.

Olehnya itu, untuk mewujudkan cita-citanya, ia mengatakan telah mengajukan tender untuk jasa konsultasi di Unit Layanan Pengadaan (ULP) DIY.

Hal ini dilakukan karena nominal proyek itu berada di atas angka 100 juta sehingga harus melalui sistem lelang, tidak bisa asal tunjuk. Namun, sayang pelelangan itu gagal.

Ia menyebutkan yang memasukkan penawaran, tenaga ahlinya sama. Misalnya, tenaga ahlinya mengunakan a, sementara perusahan lain si a tidak boleh.

“Kami butuh seorang doktor yang berpengalaman di bidang transportasi selama lima tahun. Enggak mudah menyelesaikan lajur khusus,” jelasnya.

Ia mengaku butuh masukan, utamanya terkait lokasinya di mana saja yang potensial, apa saja dampak dan risikonya. Sumariyoto juga membutuhkan rekomendasi yang tepat.

(nis)