Nasional

Ada 14 Juta Orang Indonesia Alami Gangguan Jiwa, Kenali Gejalanya

POJOKJOGJA – Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, di Indonesia ada sekitar 14 juta orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Disebutkan orang berusia si atas 15 tahun juga paling banyak mengalami gejala depresi.

Sementara prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia mencapai 400.000 orang. Yang menjadi masalah di sini adalah gangguan jiwa bisa menyebabkan masalah produktifitas menurun hingga menyebabkan kerugian secara ekonomi.

Hal itu diungkapkan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan dr Fidiansjah SpKJ, Jumat, 6 Oktober 2017.

”Estimasi dampak komulatif global masalah kesehatan jiwa dalam hal kehilangan output ekonomi akan mencapai $ 16,3 triliun antara tahun 2011 dan 2030,” ungkapnya dikutip pojoksatu.id

Ia menambahkan, mengingat dampak gangguan jiwa yang berdampak pada produktifitas kerja, maka pada hari kesehatan jiwa sedunia tahun ini, tema yang diambil adalah Kesehatan Jiwa di Tempat Kerja.

“Dengan mengambil tema itu diharapkan usia produktif dapat memaksimalkan potensinya. Pemerintah mengajak semua sektor untuk meminimalisir gangguan jiwa yang muncul di tempat kerja,” jelasnya.

Gangguan jiwa lanjut Fedi, tidak melulu gangguan jiwa berat seperti skizofrenia. Stress, depresi, dan kecemasan juga merupakan gangguan kejiwaan.

Gangguan jiwa lanjut dia, juga bisa memengaruhi kesehatan fisik seseorang. Misalnya saja, depresi yang bisa menyebabkan gangguan jantung, stroke, dan diabetes.

“Hal ini tentu menyebabkan biaya pelayanan kesehatan dan asuransi akan meningkat,” ujar Fedi.

Sementara itu Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) dr Eka Viora SpKJ menjelaskan, ada banyak faktor pemicu seseorang mengalami gangguan jiwa di, misalnya saja di kantor.

“Ada berbagai faktor seperti lelecehan atau pembully-an, intimidasi, serta interaksi dengan atasan dan sejawat,” kata Eka.

Ia menyatakan, banyak dari mereka yang tidak menyadari kalau depresi. Akhirnya ada yang sering absen, pekerjaan tidak tuntas, hingga pindah kerja.

Sementara itu lanjut Eka, banyak juga yang enggan untuk mendatangi psikiater dikarenakan takut mendapatkan cap gila.

“Kami sarankan setiap perusahaan untuk memiliki klinik yang menangani masalah psikologis karyawannya. Pemeriksaan rutin psikologis seseorang juga sebaiknya dilakukan. Tidak hanya pemeriksaan psikis saja,” harapnya.

(dien)

Baca Juga