Pojok Jogja

12 Bencana Alam Berpotensi Terjadi di DIY

POJOKJOGJA – Bencana alam bukanlah hal yang direncanakan dan diharapkan. Siapapun tak pernah ingin bencana alam datang menimpa.

Namun, seperti kata pepatah “Sedia payung sebelum hujan”, ungkapan itu berarti kitavgaru selalu siap adalam menghadapi hal apapun.

Memasuki musim penghujan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tak henti mengingatkan tentang kewaspadaan dalam menghadapi bencana alam.

Sekretaris BPBD DIY Heru Suroso bahkan mengatakan, di DIY memiliki 12 ancaman bencana alam. Olehnya itu pihaknya meminta masyarakat siap siaga menghadapi kemungkinan datangnya bencana alam.

“DIY yang meliputi lima kabupaten/kota memiliki sejarah panjang kebencanaan dan secara geografis, geologis, serta hidrometeorologis memiliki karakteristik alam yang menyimpan 12 ancaman bencana,” katanya, Jumat 10 November 2017.

Heru menyebutkan, salah satu upaya pengurangan risiko bencana yang bisa dilakukan adalah dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat untuk dapat mengenali, memahami, menyadari jenis ancaman bencana di sekitarnya.

Yang terpenting lanjut dia adalah masyarakat mampu melakukan upaya pencegahan, kesiapsiagaan, dan meminimalkan risiko bencana.

“Di DIY, dari 438 desa yang ada, 301 desa merupakan desa rawan bencana yang di antaranya terdapat di wilayah Kabupaten Sleman,” jelas Heru.

Menurutnya, masyarakat perlu dibekali dengan kemampuan mitigasi bencana sehingga akan meningkatkan ketangguhan masyarakat di dalam menanggulangi bencana.

Jadi, bila sewaktu-waktu terjadi bencana telah siaga dengan mengerahkan segala potensi di lingkungan setempat.

“Masyarakat adalah penerima dampak langsung dari bencana sekaligus pelaku. Olehnya itu, masyarakat perlu membuat mereka menjadi tangguh terhadap dampak bencana sehingga risiko korban jiwa, kerugian harta, dan lainnya bisa diperkecil dan dihindari,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun menyatakan, paradigma penanggulangan bencana tidak lagi dititikberatkan pada penanganan kedaruratan.

Ia mengatakan, penanggulangan bencana lebih ditekankan pada upaya pengurangan risiko bencana, sehingga menuntut adanya kesiapsiagaan masyarakat.

“Mitigasi bencana harus menjadi bagian dari budaya dan kearifan lokal masyarakat Sleman. Oleh karena itu, pembinaan dan pelatihan cara penanggulangan bencana harus dimulai sejak dini,” ungkapnya.

Muslimatun menilai, mitigasi bencana harus diperkenalkan dan diajarkan di bangku sekolah, bahkan sejak jenjang yang paling bawah.

Dalam setiap mitigasi bencana lanjut dia, dibutuhkan partisipasi dari semua pihak bukan hanya dari tim relawan namun juga seluruh komponen masyarakat.

“Hal itu perlu dilakukan dengan harapan kesiapsiagaan tersebut dapat bermanfaat dalam mengantisipasi jatuhnya korban jiwa,” terangnya.

(nis)

Baca Juga